“Bumper Stress” a la Prof Markum

Dok. pribadi

Di era globalisasi ini, peran stress dan efeknya terhadap kesehatan tidak bisa diabaikan. Pergeseran paradigma kesehatan dari tidak adanya penyakit menjadi sehat secara rohani dan jasmani membuat kemampuan manajemen stress menjadi penting. Kemampuan inilah yang saat ini tengah didalami oleh Prof. Dr. dr. H. M. Sulaiman Markum, SpPD-KGH. Di usianya yang sudah mencapai kepala tujuh, tokoh guru besar FKUI yang akrab disapa dengan panggilan Prof Markum ini berupaya menginsyafi kiat sabar yang ia observasi dari pengalaman hidup sang nenek. Kehidupan beliau sebagai ibu dari delapan orang anak di kota Cirebon, di zaman penjajahan Jepang tidaklah mudah; beberapa anaknya berpulang lebih dulu darinya karena penyakit dan bahkan menjadi korban pembantaian di Mandor, Kalimantan Barat, kesulitan ekonomi yang senantiasa menghimpit, kesewenangan penjajah, kehilangan rumah, dan masih banyak lagi. Dalam kata lain, hidup sang nenek cukup tragis. Ditengah berbagai masalah yang didera, sang nenek masih sering tertawa dan tampak tidak ada masalah. Dari hasil pengamatan Prof Markum, “bemper stress” utama sang nenek adalah ibadah dan tidak mudah sakit hati alias mudah memaafkan.

Bagi beliau, tidak ada lagi pelarian dalam hidup selain dengan ibadah, terutama di usia lanjut. Hidup tanpa keyakinan teguh terhadap Tuhan dalam agama apapun, akan menyebabkan kehidupan yang hampa. Ia mengisahkan, salah satu guru besar dari Eropa yang juga merupakan salah satu mentornya memiliki karir yang gemilang namun menolak untuk percaya akan adanya Tuhan. Di penghujung usianya, ia melarikan diri ke alkohol karena tidak siap menghadapi kematian. Akhirnya ia menjalani sisa hidup dengan tidak bahagia dan sendirian. Dalam kata lain, mengejar hidup di dunia tidak akan ada habisnya; ketenangan baru akan diperoleh jika kita menerima bahwa kita akan berpulang ke Sang Pencipta. Selain itu, sikap mudah memaafkan juga akan membuat hidup menjadi lebih ringan. Tidak perlu mendendam jika disakiti atau mendapat kesulitan, karena tidak akan menyelesaikan masalah; biarkan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dalam menyelesaikan masalah kita. Lakukan usaha semaksimal mungkin, dan tidak usah patah hati jika hasil tidak sesuai dengan harapan kita, karena apapun hasilnya pasti yang terbaik dari Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *