Kiat Sehat Prof. Jose

Untuk Prof. dr. Jose Roesma, Ph.D, SpPD-KGH, keluarga tidak terlepas dari kiatnya menjaga kesehatan. Karena pada hakekatnya, kesehatan tidak hanya meliputi kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental dan rohani. Bagi kakek dari satu orang cucu ini, keluarga merupakan prioritas pertama dalam hidupnya, diikuti ilmu pengetahuan di nomor dua dan pekerjaan di nomor tiga. Menjadi seorang piatu di usia belia, beliau merasakan kesepian di masa kecilnya. Setelah berkeluarga, beliau bertekad agar kejadian yang sama tidak terulang pada anaknya. Waktu luang bersama keluarga tidak bisa diganggu gugat, terutama di akhir pekan. Bahkan, beliau yang saat ini masih aktif praktik di rumahnya, tidak jarang mengajak keluarga untuk berlibur ke luar negeri, minimal dua kali tiap tahunnya, berbarengan dengan kegiatan ilmiahnya. Ketika kewajiban bersekolah ke luar negeri datang baik untuknya maupun sang istri, mereka memastikan salah satu dari mereka tetap tinggal di Indonesia untuk menemanani anak semata wayang mereka. Kunci menjaga keharmonisan keluarga bagi Prof Jose adalah komunikasi dan manajemen stress; setiap masalah harus dibicarakan dengan baik bersama istri, begitu juga dengan anak. 

Prof Jose (kiri) dan keluarga. Dok. pribadi

Di luar menjalin hubungan baik dengan keluarga, menjaga kesehatan fisik bukanlah merupakan tantangan bermakna bagi beliau. Setiap pagi, beliau tidak absen melakukan olahraga ringan seperti jogging, jalan kaki, dan senam ringan selama 30-40 menit sebelum berangkat praktik. Beliau dengan disiplin makan makanan sehat setiap hari, dengan jumlah dan jenis yang memadai. Penyakit degeneratif bawaan yang diidapnya, yakni hipertensi dan penyempitan pembuluh darah jantung, hingga kini terkontrol dengan baik; bukti nyata bahwa dengan kepatuhan berobat yang baik, kualitas hidup penderita penyakit kronis dapat terjaga. Pesan beliau dalam menjaga kesehatan adalah sebisa mungkin mendeteksi sedini mungkin penyakit-penyakit degeneratif, agar dapat terkendali dengan baik, terutama bagi mereka yang sudah menginjak usia paruh baya.

Bagi pasien dengan penyakit ginjal kronik, pemantauan berkala dapat membantu mempersiapkan pasien secara bertahap jika pada akhirnya diharuskan menjalani hemodialisis atau cuci darah. Persiapan mental, sosial, dan keluarga sangat penting bagi pasien hemodialisis. Banyak miskonsepsi yang terjadi di masyarakat terkait hemodialisis, dan tidak jarang miskonsepsi tersebut dapat memperburuk kondisi pasien. Dengan persiapan yang baik, pasien akan mendapatkan informasi yang tepat dan akurat dalam menjalani perawatannya, sehingga dapat memiliki kualitas hidup yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *