Kupas Tuntas Gagal Ginjal

Gagal ginjal acapkali menjadi momok bagi masyarakat Indonesia, dan bukan tanpa alasan. Laporan dari Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2016 menunjukkan jumlah pasien yang menjalani hemodialisis, atau yang umumnya disebut “cuci darah”, selalu meningkat tiap tahunnya; dari 35.044 pasien di tahun 2015 menjadi 52.835 pasien di tahun 2016. Meskipun begitu, konsep dari penyakit ginjal itu sendiri serta perjalanannya masih belum banyak dipahami oleh masyarakat. Artikel ini akan mengupas tuntas hal-hal mendasar yang perlu diketahui terkait gagal ginjal, menyambut hadirnya Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) 2019.

Ginjal dan Fungsinya

Ginjal adalah organ yang terletak di rongga perut bagian belakang, berbentuk seperti kacang dan berjumlah dua (sepasang) pada sebagian besar manusia sehat. Ginjal berfungsi menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan keasaman tubuh. Selain itu, ginjal juga berfungsi membuang zat-zat sisa metabolisme yang dapat meracuni tubuh, mengatur tekanan darah, dan produksi sel darah merah. Pada pemeriksaan laboratorium, fungsi ginjal dinilai melalui kadar kreatinin, sebuah zat sisa dari metabolisme protein otot. Kreatinin, berat badan, usia, dan jenis kelamin digunakan dalam rumus pengukuran kecepatan penyaringan ginjal, yang disebut laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/GFR). GFR dari ginjal yang normal adalah lebih dari 90 ml/menit/1.73 m2, meskipun pada usia lanjut GFR akan semakin menurun.

Gangguan Kesehatan Ginjal: Akut dan Kronik

Gangguan dari fungsi ginjal menyebabkan gangguan dalam menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam-basa tubuh. Ketidakseimbangan ini tidak saja menyebabkan gejala yang menurunkan kualitas hidup, tetapi juga dapat mengancam jiwa.

Berdasarkan awitannya, penyakit ginjal dibagi menjadi akut dan kronik. Gangguan ginjal akut/GGA (acute kidney injury/AKI) adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi dalam hitungan jam sampai hari. Penyebabnya pun bersifat akut, dari diare, terlalu banyak makan jengkol, hingga infeksi berat. Gangguan ini dapat disembuhkan selama penyebabnya teratasi, meskipun seringkali menyebabkan penurunan fungsi ginjal jangka panjang. Sementara itu, penyakit ginjal kronik/PGK (chronic kidney disease/CKD) adalah penurunan fungsi ginjal yang berlangsung lama, ditandai dengan penurunan GFR selama minimal tiga bulan. PGK tidak dapat disembuhkan dan dapat berujung pada keharusan melakukan cuci darah. Meskipun begitu, perburukan PGK dapat dihambat agar fungsi ginjal terjaga dalam waktu lama.

Gejala Gangguan Ginjal


Photo by Josh Willink from Pexels

Salah kaprah yang umumnya terjadi di masyarakat adalah mengaitkan gejala nyeri atau pegal pada pinggang dengan gejala gangguan ginjal. Gejala penyakit ginjal yang berkaitan dengan nyeri biasanya akibat adanya batu di saluran ginjal atau infeksi. PGK sendiri seringkali tidak menimbulkan gejala sebelum sampai tahap lanjut. Gejala seringkali bersifat tidak spesifik dan menyerupai gejala penyakit lain. Gejala yang dapat muncul antara lain:

– penumpukan cairan di tubuh, yang menyebabkan sesak (cairan menumpuk di paru), perut membuncit (cairan menumpuk di rongga perut), dan bengkak di kaki dan tangan

– mual, muntah, dan penurunan nafsu makan

– gangguan konsentrasi hingga penurunan kesadaran

– gangguan pembekuan darah sehingga mudah berdarah dan sulit berhenti

– lemah dan mudah lelah

– kesulitan tidur

– gatal yang susah hilang

– nyeri dada jika terjadi penumpukan cairan dan radang di kantung pembungkus jantung

– jumlah urin berkurang

– tekanan darah tinggi yang susah turun dengan pengobatan teratur

Cegah Gangguan Ginjal


Photo by Josh Willink from Pexels

Peyakit ginjal terutama PGK sangat tinggi pada pasien dengan penyakit diabetes, hipertesi, dan penyakit jantung, serta riwayat keluarga dengan gagal ginjal. Oleh karena itu, pencegahan sangat berkaitan dengan penyakit-penyakit tersebut. Kiat menjaga kesehatan ginjal antara lain:

  • Jaga pola makan sehat. Hindari makanan cepat saji yang tinggi akan garam, dan perbanyak sayur dan buah.
  • Lakukan aktivitas fisik dan olahraga teratur.
  • Stop merokok.
  • Pantau tekanan darah secara rutin. Untuk penderita hipertensi, konsumsi obat-obatan dan kontrol ke dokter secara teratur.
  • Pantau gula darah secara rutin, dan jaga kadar gula darah menggunakan obat-obatan untuk pasien diabetes.
  • Pada pasien dengan gangguan jantung, minum obat-obatan yang diresepkan secara teratur.
  • Jaga tubuh agar terhidrasi dengan baik, melalui minum air yang cukup. Bagi pasien dialisis, minum cairan sesuai anjuran Dokter.
  • Periksakan kesehatan ginjal secara teratur sesuai dengan anjuran Dokter.

Masih banyak pertanyaan terkait kesehatan ginjal? Nantikan artikel-artikel menarik selanjutnya dari kami! /swarapernefri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *