Risiko Penyakit Ginjal pada Wanita


Kondisi biologis dari seorang wanita menyebabkan dirinya lebih rentan terhadap penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan gagal ginjal. Selain itu, kesenjangan sosial dan gender semakin meningkatkan risiko wanita mengalami gagal ginjal dan tidak mendapat pertolongan. Kondisi tersebut dijabarkan oleh dr. Giorgina Piccoli, staf pengajar University of Torino di Italia, beserta beberapa koleganya di sebuah artikel ilmiah berjudul “Women and Kidney Diseases; Questions Unanswered and Unquestioned Answers” di jurnal Kidney International Report.”

  • Preeklamsia

Preeklamsia adalah peningkatan tekanan darah dan kebocoran ginjal pada wanita hamil yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia merupakan penyebab utama kerusakan ginjal pada wanita hamil dan dapat berujung pada kematian. Bayi dari ibu yang mengalami preeklamsia juga berisiko memiliki berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR dikaitkan dengan banyak penyakit di masa dewasa, salah satunya gagal ginjal.

  • Kehamilan pada penykit ginjal kronik dan penerima donor ginjal

Wanita yang mengalami penyakit ginjal kronik (PGK) memiliki kesuburan yang lebih rendah. Pada wanita dengan PGK yang berhasil hamil, risiko komplikasi kehamilan terbilang tinggi, baik untuk ibu maupun untuk janin. Penelitian menunjukkan wanita dengan penyakit ginjal tahap akhir harus menjalani hemodialisis setiap hari untuk meningkatkan keberhasilan kehamilannya. Kehamilan pada pasien cangkok ginjal

Wanita yang menerima cangkok ginjal juga berisiko untuk mengalami komplikasi kehamilan, karena harus meminum obat-obatan untuk mempertahankan fungsi cangkok ginjalnya, sedangkan obat-obatan tersebut memiliki efek samping terhadap janin.

  • Penyakit ginjal autoimun
Selena Gomez dan Fransisca Raisa, penyintas gagal ginjal akibat Lupus dan donornya. (Sumber: Instagram)

Wanita lebih rentan terkena penyakit autoimun. Untuk penyakit lupus, perbandingan penderita wanita dan pria adalah 9:1. Penyakit ini menyebabkan peradangan di berbagai organ tubuh, salah satunya ginjal. Penyakit autoimun harus dideteksi secara dini dan dikontrol dengan obat-obatan yang menghambat peradangan; kesulitan untuk akses kesehatan menyebabkan penyakit seringkali baru diobati setelah mencapai derajat cukup berat. Konsumsi obat-obatan untuk meredakan gejala tanpa resep dokter juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.

  • Lebih jarang menerima cangkok ginjal dan hemodialisis
Dok. pribadi

Berbagai penelitian lintas negara menunjukkan adanya kecenderungan bagi wanita untuk tidak mendapatkan atau lebih lambat dalam inisiasi terapi pengganti ginjal (TPG) seperti hemodialisis atau cangkok ginjal. Wanita pun menghadapi kesulitan yang lebih tinggi untuk mendapatkan TPG akibat faktor sosial dan budaya yang belum diteliti lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *