Bahaya Laten Rokok terhadap Ginjal

Menghirup asap rokok secara cuma-cuma pun memiliki konsekuensi kesehatan tersendiri

Bahaya rokok terhadap kesehatan sudah sering didengar oleh masyarakat dunia. Penyakit jantung, stroke, dan kanker paru hanya segelintir dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh rokok. Penyakit ini menyebabkan besarnya biaya yang dikeluarkan oleh berbagai organisasi kesehatan dunia. Ironisnya, sebanyak 80% dari 1.1 milyar konsumen rokok berasal dari negara berpenghasilan menengah ke bawah. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, 29% masyarakat Indonesia adalah perokok, dengan jumlah perokok pria 29 kali lebih banyak dari wanita dan jumlah perokok anak meningkat dari 7.2% pada tahun 2013 menjadi 9.1% pada tahun 2018 (Riskesdas 2018).

Bahaya rokok tidak hanya bagi mereka yang secara aktif menghisap rokok, tetapi juga bagi mereka yang berada di sekitarnya atau yang biasa disebut dengan perokok pasif. Menurut data dari WHO, rokok menyebabkan 8 juta kematian di seluruh dunia, dan sekitar 890.000 dari kematian tersebut terdapat pada perokok pasif. Di Indonesia sendiri, kematian akibat rokok mencapai 225,700 nyawa tiap tahunnya. Merokok secara pasif sering terjadi tanpa disadari di rumah, restoran, kantor, dan tempat-tempat umum lainnya, sehingga jumlah perokok pasif menunjukkan angka yang cukup bombastis. Sebanyak 12 juta (56.3%) anak usia 0-4 tahun adalah perokok pasif, sedangkan 14.6 juta orang dewasa menjadi perokok pasif  di tempat kerja dan 133.3 juta menjadi perokok pasif di rumah (Infodatin Kemenkes RI 2017).

Terkait kesehatan ginjal, merokok secara aktif terbukti berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal secara berangsur. Peneliti Xia dkk merangkum hasil 15 penelitian pada 65.000 penderita penyakit ginjal kronik (PGK) dan menemukan bahwa merokok meningkatkan risiko perburukan fungsi ginjal hampir dua kali lebih besar, bahkan pada penderita yang sudah berhenti merokok. Diduga, hal ini disebabkan salah satunya oleh nikotin yang dapat menurunkan aliran darah ke berbagai organ termasuk ginjal. Racun-racun lain dalam rokok juga dapat menimbulkan peradangan dan jaringan parut dalam jangka panjang. Padahal seperti yang sudah kita ketahui, gagal ginjal merupakan beban kedua terbesar untuk BPJS Kesehatan, dan pada tahun 2017 saja menghabiskan dana Rp 3,1 triliun.

Dengan penemuan tersebut, para peneliti dari Korean Genome and Epidemiology Study mencari hubungan antara perokok pasif dengan penurunan fungsi ginjal. Sebanyak 1948 subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok: tidak pernah terpapar asap rokok, terpapar kurang dari 3 hari dalam seminggu, dan lebih dari 3 hari seminggu. Setelah diikuti selama hampir sembilan tahun, ditemukan bahwa kelompok yang terpapar asap rokok memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena PGK; 58% lebih tinggi untuk yang terpajan kurang dari 3 hari seminggu dan 60% lebih tinggi untuk yang terpajan selama 3 hari atau lebih dalam seminggu. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang meneliti secara langsung pajanan asap rokok terhadap penurunan fungsi ginjal; beberapa penelitian sebelumnya dilakukan dalam skala kecil dan jangka waktu yang pendek sehingga tidak cukup untuk menentukan hubungan sebab-akibat dari merokok secara pasif dan gangguan ginjal.

Background photo created by freepik – www.freepik.com

Tidak dapat dipungkiri, Indonesia masih memiliki segudang pekerjaan rumah dalam menanggulangi masalah kesehatan akibat rokok. Industri musik, beasiswa, bahkan perhelatan akbar olahraga di Indonesia masih disponsori oleh industri rokok. Belum lagi adanya beberapa komunitas yang melestarikan penggunaan tembakau sebagai bagian dari budaya Indonesia. Hal ini tentunya menimbulkan citra di masyarakat bahwa perusahaan rokok memiliki peran penting di Indonesia, padahal kerugian materi dan non-materi yang disebabkan penyakit akibat rokok tidak sebanding dengan manfaat yang didapatkan. Pendapatan negara dari cukai rokok memang mencapai Rp 153 triliun per tahun 2018. Meskipun begitu, negara telah menggelontorkan dana sebesar Rp 639 triliun mencakup biaya langsung (kesehatan) dan tidak langsung (kerugian akibat penurunan produktivitas) (Tobacco Atlas 2018). BPJS kesehatan sendiri telah menghabiskan Rp 12.8 triliun untuk penyakit akibat rokok; dana ini adalah salah satu penyumbang terbesar defisit BPJS kesehatan. 

Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak (pemerintah, pemuka agama, figur publik, industri hiburan, dan industri olahraga) untuk mengentaskan permasalahan akibat rokok. Langkah awal yang perlu ditegakkan oleh pemerintah adalah menetapkan peraturan yang tegas terkait kawasan tanpa rokok di berbagai kota. Semoga di masa depan Indonesia dapat melihat rokok sebagai benda asing yang tidak lagi memiliki tempat di masyarakat.[

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *