Hari Hipertensi Sedunia: Berantas Mitos Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Sayangnya, masih banyak pemahaman keliru di masyarakat Indonesia tentang penyakit ini. Pemahaman keliru ini sedikit banyak berkontribusi pada besarnya beban penyakit hipertensi terhadap masyarakat Indonesia. Menurut data terakhir BPJS Kesehatan, biaya yang digelontorkan untuk penanganan hipertensi terus meningkat tiap tahunnya, dari Rp 2,8 triliun pada tahun 2014 hingga Rp 4,2 triliun pada tahun 2016. Penanggulangan hipertensi harus dimulai dengan pemahaman yang benar di masyarakat terkait hipertensi. Berikut beberapa mitos yang sering muncul di masyarakat terkait hipertensi:

  • Gejala hipertensi adalah sakit kepala, leher kencang, dll

Fakta: hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala hingga akhirnya muncul komplikasi. Bahkan, penyakit ginjal kronik (PGK), yang merupakan komplikasi dari hipertensi, seringkali baru menunjukkan gejala setelah mencapai tahap akhir dan membutuhkan cuci darah (dialisis). Oleh karena itu, penting untuk memeriksa tekanan darah secara berkala.


Photo by bruce mars from Pexels
  • Obat hipertensi cukup diminum hanya ketika badan terasa tidak enak atau tekanan darah sedang tinggi

Fakta: hipertensi merupakan penyakit seumur hidup, dan obat-obatan harus terus diminum untuk menjaga tekanan darah tetap pada targetnya. Pada beberapa kasus yang ringan, obat hipertensi dapat dikurangi hingga dihentikan dalam pengawasan dokter dan disertai perubahan gaya hidup yang ketat. Jika tekanan darah naik kembali maka obat pun harus dilanjutkan kembali


Photo by rawpixel.com from Pexels
  • Orang dewasa muda tidak mungkin menderita hipertensi

Fakta: hipertensi dapat ditemui pada anak kecil dan dewasa muda, terutama pada penderita obesitas yang jarang beraktivitas fisik. Meskipun jarang, hipertensi pada populasi muda juga dapat merupakan gejala dari penyakit bawaan atau penyakit autoimun pada ginjal.

  • Cukup sekali berobat ke dokter, seterusnya dapat beli obat sendiri dan diminum teratur

Fakta: mengontrol tekanan darah ke dokter tidak semata-mata hanya memperpajang resep. Ketika pasien berkunjung ke dokter, dokter akan memantau apakah dosis obat perlu ditambah atau dikurangi, dan melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya komplikasi dari hipertensi.


Photo by rawpixel.com from Pexels
  • Terlalu lama mengkonsumsi obat-obatan hipertensi dapat merusak ginjal

Fakta: tekanan darah yang tidak terkontrol dengan obat-obatan justru dapat menyebabkan gagal ginjal. Obat-obatan hipertensi harus selalu diminum sesuai anjuran dokter.

Sudah waktuya masyarakat Indonesia berdaya dalam memberantas hipertensi dan komplikasinya. Pemerintah sudah menggalakkan Pos Binaan Terpadu untuk membantu mendeteksi dini hipertensi di masyarakat. Bagi penderita hipertensi, pemerintah juga menyediakan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) untuk mencegah komplikasinya, dengan bantuan kader kesehatan. Masyarakat harus sadar akan kesehatannya dan mencegah berbagai penyakit untuk menciptakan masyarakat dan sumberdaya yang berkualitas untuk memajukan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *