Hari Lupus Sedunia: Kenali Gangguan Ginjal Akibat Lupus

Beberapa waktu lalu dunia dihebohkan dengan kabar dari selebriti internasional, Selena Gomez, yang menjalani operasi cangkok ginjal, dengan donor dari sahabatnya Francia Raisa. Konon, ginjal aktris cantik kelahiran 1992 ini mengalami kegagalan fungsi akibat penyakit lupus yang dideritanya sejak tahun 2015. Kejadian ini tentu menggaet perhatian khalayak umum tentang penyakit ini. Sudahkah Anda tahu, apa itu lupus dan pengaruhnya terhadap ginjal?

Sumber: instagram

Lupus adalah sebuah penyakit autoimun, di mana kekebalan tubuh mengalami kelainan sehingga menyerang jaringan dan organ tubuh yang sehat. Sebagian besar penderita lupus adalah perempuan usia 15-50 tahun, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya penderita dari kalangan laki-laki, anak, dan pra-remaja. Di dunia, penderita lupus mencapai lima juta jiwa, sedangkan penelitan oleh Prof. Handono Kalim dkk menunjukkan prevalensi penyakit lupus sekitar 0.5% atau sekitar 1.250.000 jiwa di Indonesia. Faktor risiko dari lupus sendiri di antaranya adalah faktor keturunan/genetik, faktor hormon (lebih banyak pada perempuan usia produktif), dan berbagai faktor lingkungan.


Photo by Isabella Mariana from Pexels

Penyakit ini memiliki gejala yang beragam dan dapat menyerupai penyakit-penyakit lain (the great imitator). Oleh karenanya, penyakit ini disebut sebagai penyakit seribu wajah, dan cukup sulit terdiagnosis. Hal ini disebabkan sifat penyakit yang dapat menyerang berbagai organ. Sebanyak 5 dari 10 penderita lupus mengalami gangguan ginjal akibat penyakit ini, yang disebut dengan lupus nefritis. Ginjal menjadi radang dan membengkak, dan dapat membentuk jaringan parut yang menghambat fungsi ginjal.

Penyebab dari terjadinya lupus nefritis juga belum diketahui dengan jelas. Lupus nefritis biasanya muncul bersamaan dengan gejala lupus yang lain seperti nyeri dan bengkak pada sendi, demam yang tidak jelas penyebabnya dan tidak kunjung turun, nyeri otot, serta ruam merah pada kulit terutama pada pipi dan hidung yang menyerupai kupu-kupu (butterfly rash). Sementara itu, hasil pemeriksaan laboratorium yang menandai adanya kerusakan ginjal pada lupus dapat berupa terdapatnya protein dan darah pada urin yang menandakan kebocoran ginjal, serta peningkatan kadar kreatinin yang menunjukkan adanya penurunan laju filtrasi ginjal. Jika dibiarkan, lupus nefritis juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, gagal jantung, hingga gagal ginjal yang membutuhkan hemodialisis (cuci darah).

Karena tanda dan gejalanya yang sangat beragam, Kemenkes RI mencetuskan istilah Periksa Lupus Sendiri yang disingkat SALURI. Kegiatan SALURI dapat dilakukan di Pos Binaan Terpadu (Posbindu), Puskesmas, atau di sarana kesehatan lainnya. Dengan mendeteksi lupus lebih cepat, diharapkan beban fisik, mental, dan ekonomi yang dialami penderita dapat ditekan seminimal mungkin dengan tatalaksana yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *