Puasa Ramadhan dan Penyakit Ginjal Kronik?

Momen berpuasa di bulan Ramadan merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim, tak terkecuali di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, puasa dapat memperberat kondisi medis tertentu. Oleh karenanya, Islam memberi pengecualian bagi beberapa populasi yang dapat terbebani dengan berpuasa, salah satunya adalah mereka yang menderita penyakit. Meskipun begitu, tidak sedikit penderita penyakit-penyakit kronis yang masih ingin menjalankan puasa selama kondisi masih memungkinkan. Bagaimana dengan penderita penyakit ginjal kronik?


Photo by rawpixel.com from Pexels

Penyakit ginjal kronik menyebabkan tubuh tidak dapat mengatur berbagai zat dengan baik; banyak zat yang rawan menjadi berlebih atau berkekurangan kadarnya di dalam darah. Pada kondisi puasa, kondisi dehidrasi yang muncul dikhawatirkan mengganggu keseimbangan elektrolit. Selain itu, seringkali berbuka puasa menyebabkan masuknya banyak makanan dan cairan ke dalam tubuh dalam waktu yang singkat dan jumlah yang banyak. Makanan yang disajikan saat berbuka pun seringkali tinggi kalium dan fosfor, seperti kurma, produk olahan susu, jus buah, minuman bersoda, teh, dan sebagainya.

Di sisi lain, kegiatan berpuasa memiliki makna yang penting bagi umat Muslim. Pasien dengan PGK, terutama yang menjalani dialisis, seringkali merasa terisolasi dari masyarakat karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Kemampuan untuk berbaur dengan sanak saudara dapat membantu pasien bersemangat dan terhindar dari depresi. Ramadhan, sebagai bulan di mana suasana kekeluargaan menjadi lebih dominan, dapat menjadi salah satu cara mencegah depresi pada pasien PGK.


Photo by mentatdgt from Pexels

Terkait perihal ini beberapa penelitian sudah dilakukan, terutama di negara Timur Tengah, terkait puasa pada pasien PGK.

  1. Amaar Bakhit dari King Saud University, Saudi Arabia (2017): terdapat penurunan fungsi ginjal 3 bulan pasca berpuasa Ramadhan pada pasien PGK stadium 3 atau lebih, di musim yang lebih panas (puasa ± 15 jam/hari). Meskipun demikian, terdapat efek positif pasca berpuasa antara lain penurunan tekanan darah dan HbA1c, paremeter penilaian kontrol gula darah.
  2. Mohammed NasrAllah dan Noha Osman dari Kasr AlAiny School of Medicine, Cairo University, Mesir (2014) : peningkatan kejadian stroke, serangan jantung, dan penyakit pembuluh darah akut pada pasien PGK yang berpuasa, terutama bagi pasien yang memiliki faktor risiko kardiovaskular.
  3. Nicola Bragazzi (2014): rangkuman 26 penelitian terkait puasa pada pasien PGK, transplantasi ginjal, dan batu ginjal menunjukkan tidak ada efek samping yang signifikan pada kondisi klinis pasien. Meskipun begitu, perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian dilakukan pada musim dengan cuaca yang relatif dingin, sehingga hasilnya belum tentu akan sama pada musim yang lebih panas.

Photo by rawpixel.com from Pexels

Secara keseluruhan, berpuasa pada pasien PGK baik dengan dialisis maupun tidak masih bersifat kontroversial. Banyaknya variasi geografis dan karakteristik umat Muslim menyebabkan masih terbatasnya bukti ilmiah yang dapat dijadikan acuan dalam menjalani puasa. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan ahli ginjal mengenai baik tidaknya berpuasa, karena kondisi tiap individu berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *