(Obat) Hipertensi Bikin Rentan Covid-19?

Ayo kita peringati Hari Hipertensi Sedunia dengan memberantas mitos tentang Covid19

Peringatan hari hipertensi sedunia tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Saat ini dunia tengah disibukkan melawan pandemi baru bernama Covid-19. Karena baru ditemukan, peneliti dan klinisi berlomba-lomba meneliti Covid19, mulai dari penyebarannya, gejala klinisnya, hingga pengobatannya. Semua ini dilakukan untuk mempercepat penyelesaian dari pandemi ini.

Berbagai laporan kasus Covid-19 menunjukkan sebanyak 15-30% pasien Covid-19 mengalami hipertensi.[i] Banyak yang menduga bahwa kondisi hipertensi menyebabkan seseorang rentan terhadap Covid 19. Hal ini dikarenakan, virus Covid-19 beserta virus-virus lain dengan struktur serupa seperti SARS-Cov dan SARS-Cov 2 berikatan dengan enzim yang bernama Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2) yang terdapat di sel-sel di paru, usus, ginjal, dan pembuluh darah manusia. Enzim ini memiliki peran dalam menurunkan tekanan darah. Sebagian besar penderita hipertensi diberikan obat-obatan yang meningkatkan kadar ACE2, yakni obat golongan ACE-inhibitor (ACE-I) seperti kaptopril, lisinopril, dll dan angiotensin-receptor blocker (ARB) seperti valsartan, losartan, candesartan, dll.1 Oleh karena itu, muncul kecurigaan bahwa penggunaan obat-obatan hipertensi golongan ACE-I dan ARB dapat meningkatkan risiko terkena Covid-19. Mengingat bahwa obat-obatan golongan ACE-I dan ARB merupakan obat yang sangat sering digunakan untuk mengontrol tekanan darah, isu-isu tersebut menyebabkan penderita berhenti mengkonsumsi obat-obatan hipertensi karena khawatir terjangkit Covid-19.

Hal ini dibantah oleh International Society of Hypertension, European Society of Cardiology, dan European Society of Hypertension.[i] Banyaknya penderita Covid-19 yang memiliki penyakit hipertensi dapat disebabkan usia penderita Covid-19 yang membutuhkan perawatan sebagian besar di atas 60 tahun, di mana hipertensi sering dijumpai pada kelompok usia tersebut. Selain itu, data yang ada saat ini tidak menunjukkan perbedaan bermakna tingkat infeksi antara pasien yang mengkonsumsi kedua jenis obat-obatan tersebut dan pasien yang menggunakan obat jenis lain. Penghentian obat-obatan tersebut secara mendadak justru akan membahayakan karena menyebabkan tekanan darah tidak stabil dan meningkat. Tekanan darah yang terlalu tinggi dan tidak terkendali dikhawatirkan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berat, di antaranya gangguan jantung dan stroke. Penelitian di hewan bahkan menunjukkan potensi obat-obatan tersebut untuk melindungi pasien dari komplikasi Covid-19, namun penelitian di manusia belum ada.[ii]

Berdasarkan data yang ada, maka berbagai lembaga internasional ini tidak menyarankan penghentian pengobatan hipertensi, terutama jika dilakukan secara mandiri oleh pasien. Jika ke depannya terdapat data yang mengharuskan perubahan pengobatan hipertensi untuk menghindari infeksi atau meningkatkan kesembuhan pasien dengan Covid-19, maka hal tersebut harus dilakukan oleh dokter.


[i] International Society of Hypertension. A Statement from The International Society of Hypertension on Covid-19. [laman di internet]. Diunduh dari: https://ish-world.com/news/a/A-statement-from-the-International-Society-of-Hypertension-on-COVID-19/

[ii] de Simone G. Position Statement of the ESC Council on Hypertension on ACE-Inhibitors and Angiotensin Receptor Blockers. European Society of Hypertension, 2020 Mar 13. Diunduh dari: https://www.escardio.org/Councils/Council-on-Hypertension-(CHT)/News/position-statement-of-the-esc-council-on-hypertension-on-ace-inhibitors-and-ang

[iii] Fang L, Karakiulakis G, dan Roth M. Are patients with hypertension and diabetes mellitus at increased risk for Covid-19 infection? Lancet, 2020 Mar 11. Diunduh dari: https://www.thelancet.com/pdfs/journals/lanres/PIIS2213-2600(20)30116-8.pdf


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *